Tipus,
atau tifus, dalam istilah medis, selama ini ternyata berbeda dengan apa yang dimengerti
oleh orang awam. Dalam literatur, tifus merujuk pada penyakit yang diakibartkan
oleh kuman Rickettsia typhi. Sedangkan tipes atau tifus dalam bahasa awam
menunjuk pada penyakit yang diakibatkan oleh kuman Salmonella typhi atau
Salmonella paratyphi. Meskipun mempunyai nama belakang yang sama, mereka adalah
kuman yang sangat berbeda.Tifus yang disebabkan karena infeksi
Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi,istilah yang
lebih tepatnya disebut sebagai demam tifoid.
Gejala
penyakit tipus
Gejala
awalnya demam tinggi, namun hal ini seringkali dianggap penyakit biasa sehingga
hanya dibiarkan saja, yang pada akhirnya menjadi terlambat didiagnosis. Tipus
pada umumnya berlangsung selama satu bulan, dan pada setiap minggunya akan
meningkat ketahap baru dan terjadi perubahan gejala.
Gejala
tipes pada anak pada umumnya hampir sama dengan gejala penyakit demam berdarah
dengue. Hal inilah yang terkadang membuat masyarakat awam bingung membedakan
kedua gejala penyakit ini. Oleh karena itu, biasanya pemeriksaan dokterlah yang
bisa membedakan antara gejala tipes dan juga penyakit DBD.
Kuman penyebab tipes, masuk ke dalam tubuh, paling banyak, melalui makan
an. Dalam usus, bakteri ini berkembang biak membentuk koloni di usus halus dan menyebabkan peradangan, luka, bahkan mungkin perforasi. Dari usus halus ini, kuman dapat menyebar ke mana-mana melalui pembuluh darah.
Pada saat agresi kuman mulai berlangsung, gejala awal yang timbul sering mengecoh, artinya mirip dengan beberapa penyakit lain. Gejala umum sakit tipes adalah demam, nyeri kepala dan otot, mual, muntah, sembelit, kadang diare. Karena itu, wajar jika pada tahap awal ini sering terjadi kesalahan diagnosis.
Gejala yang khas mulai muncul pada minggu kedua, meski terkadang pada minggu pertama juga sudah muncul. Gejala khas tersebut adalah demam tinggi, terutama pada sore dan malam hari, lidah kotor, kesadaran dapat terganggu, hati dan limpa membesar, dan timbul rasa nyeri saat perut ditekan. Selain gejala khas, penyakit tipus ini juga dipastikan melalui test laboratorium.
Empat tahap utama demam tifoid
adalah:
Tahap
1: penderita mengalami demam progresif tinggi disertai dengan mengeluarkan
keringat yang banyak, juga sakit kepala dan batuk.
Tahap
2: demam yang dirasakan penderita tetap tinggi, tapi umumnya akan
memuncak dan mereda pada sore hari. Delirium adalah gejala umum dari tahap ini.
Tahap
3: pada tahap ini, tipus bisa menimbulkan risiko kesehatan yang cukup serius,
seperti perdarahan usus dan atau perforasi. Bisa berakibat fatal jika ada
komplikasi kesehatan lain yang diderita sebelumnya.
Tahap
4: tahap terakhir atau keempat ditandai dengan penurunan demam, namun penderita
akan terus terus mengalami delirium selama tahap ini.
Jangan pernah anggap remeh jika mengalami demam tinggi, apalagi sudah beberapa
hari tak mereda dengan obat penurun panas. Tifus cepat disembuhkan jika
terdeteksi dan diobati ketika masih dalam tahap awal. Pemeriksaan intensif oleh
dokter sangat diperlukan untuk memperoleh pengobatan yang tepat, sehingga tidak
sampai berlangsung ketahap selanjutnya.
Diagnosis Tifus
Di Indonesia, pemeriksaan Widal (uji serologi untuk mendeteksi keberadaan bakteri salmonella) masih menjadi patokan utama untuk menentukan diagnosis. Padahal, hasil tes widal yang positif tidak selalu berarti pasien pasti mengidap tifus (tipes).
Ini dikarenakan di daerah endemis seperti Indonesia, semua orang sudah pernah terpapar Salmonella thyphosa. Tubuh telah membentuk antibodi terhadap bakteri ini. Itu sebabnya, ketika pemeriksaan Widal dilakukan, antibodi dalam tubuh akan memberi reaksi positif. Namun ini bukan berarti Anda positif mengidap tifus.
Selain tes Widal,terdapat juga tes yang lebih akurat mendeteksi tifus, yaitu tes TUBEXR. Tes imunologi ini dilakukan menggunakan partikel berwarna untuk meningkatkan sensitivitas.
Tifus didiagnosis dengan menganalisis sampel darah, tinja, atau urin di laboratorium. Selain pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, akurasi diagnosis juga dapat dilakukan dengan memeriksa sampel cairan tulang belakang. Namun tes ini hanya digunakan jika pemeriksaan lain tidak mendatangkan hasil yang meyakinkan. Waktu yang panjang dan rasa sakit yang ditimbulkan membuat tes ini lebih jarang dilakukan.
Jika Anda positif mengidap tifus, ada baiknya memeriksakan anggota keluarga lain untuk mendeteksi kemungkinan penularan.
Pengobatan Tifus
Antibiotik selalu digunakan untuk pengobatan tipes. Jenis antibiotik yang cocok digunakan ada beberapa macam.
Kombinasi Amoksisilin (Kalmoxillin, Amoxsan, Penmox) dengan Tiamphenikol (Thiamycin, Bioticol, Nufathiam) atau Kloramfenikol (Chloramex, Colme, Kloramixin) merupakan pilihan pertama untuk mengatasi kuman Salmonella. Kombinasi ini cukup efektif. Namun saat ini terdapat kuman yang mulai resisten dengan kombinasi obat tersebut. Untuk mengatasinya, digunakan kombinasi baru, yaitu antibiotik golongan sefalosporin, seperti Sefadroksil (Cefat, Longcef, Sedrofen) yang juga dikombinasikan dengan Kloramfenikol atau Tiamfenikol.
Selain itu, antibiotik golongan kuinolon, seperti Siprofloksasin (Baquinor, Renator, Interflox) masih cukup manjur mengatasi kuman Salmonella.
Sedangkan untuk meredakan demam, antipiretik yang umum digunakan adalah parasetamol (Dumin, Pamol, Sanmol).
Pengobatan Tifus di Rumah Sakit
Sampel darah, tinja, dan urin Anda akan diperiksa di laboratorium untuk menentukan jenis antibiotik yang tepat diberikan. Antibiotik di rumah sakit akan diberikan dalam bentuk suntikan. Jika diperlukan, cairan dan nutrisi juga akan disuntikkan ke dalam pembuluh darah melalui infus.
Infus diberikan karena perawatan tifus yang dilakukan di rumah sakit umumnya diiringi muntah terus-menerus, diare parah, serta perut kembung. Pada sebagian kecil kasus, operasi mungkin diperlukan jika terjadi komplikasi yang membahayakan nyawa seperti pendarahan dalam atau rusaknya sistem pencernaan.
Hampir semua kondisi pengidap berangsur membaik setelah dirawat di rumah sakit selama 3-4 hari. Namun mungkin perlu beberapa minggu hingga Anda sepenuhnya pulih.
Pengobatan Tifus di Rumah
Umumnya orang yang terdiagnosis tifus pada stadium awal membutuhkan 1-2 minggu pengobatan dengan tablet antibiotik yang diresepkan. Meski tubuh akan mulai membaik setelah 2-3 hari mengonsumsi antibiotik, sebaiknya jangan menghentikan konsumsi sebelum antibiotik habis. Ini penting untuk memastikan agar bakteri benar-benar hilang dari tubuh.
Meski begitu pemberian antibiotik untuk mengobati tifus mulai menimbulkan masalah tersendiri di Asia Tenggara. Beberapa kelompok Salmonella typhi menjadi kebal terhadap antibiotik. Beberapa tahun terakhir, bakteri ini juga menjadi kebal terhadap antibiotik ampicillin dan trimotheprim-silfamethoxazole.
Segera berkonsultasi dengan dokter jika kondisi Anda memburuk saat menjalani perawatan di rumah. Pada sebagian kecil pengidap, penyakit ini dapat saja kambuh lagi. Agar tubuh segera pulih dan mencegah risiko tifus datang lagi, pastikan Anda menjalani langkah-langkah sederhana seperti Istirahat cukup,dan Makan teratur. Anda dapat makan sesering mungkin dalam kadar sedikit dibandingkan jika makan dengan porsi besar sebanyak tiga kali sehari.Selain itu tentunya Minum banyak air putihdan Cuci tangan teratur dengan sabun dan air hangat untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi.
Pengobatan Tambahan
Jika setelah menjalani pengobatan ternyata hasil tes tinja menemukan bahwa Anda masih mengidap bakteri Salmonella typhi, Anda mungkin akan disarankan untuk menjalani 28 hari pengobatan antibiotik kembali untuk membersihkan sisa-sisa bakteri. Ini untuk mengurangi potensi Anda menjadi pembawa bakteri tifus jangka panjang.
Selama Anda masih terdiagnosis terinfeksi, sebaiknya hindari aktivitas mengolah makanan. Selain itu pastikan Anda mencuci tangan setelah buang air.
Berbagai Pilihan Obat Sakit Tipes Alami yang Cukup Ampuh
Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah yang mana benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh nenek moyang dan leluhur kita. Banyak obat alami yang telah ditemukan dan manfaatkan sejak dulu yang kini juga dimanfaatkan sebagai komposisi dalam pembuatan obat modern. Tidak ada salahnya jika Anda memanfaatkan obat alami tersebut secara langsung, salah satunya untuk mengobati tipes. Lalu apa saja obat tipes alami ini? Berikut ini selengkapnya.
Cacing Tanah
Cacing tanah merupakan salah satu obat sakit tipes yang paling ampuh. Jika Anda merasa jijik dengan cacing, Anda bisa langsung melompat ke poin berikutnya. Pengobatan tipes dengan cacing tanah telah dibuktikan secara klinik dan juga melalui penelitian. Meskipun terlihat sepele, sebenarnya cacing tanah banyak manfaatnya untuk kesehatan, selain untuk mengobati tipes juga bisa dimanfaatkan untuk mengobati demam, cacar, gangguan kemih, dan lain sebagainya.
Cacing tanah ini bisa didapatkan dari kebun, biasanya lebih mudah dicari pada malam hari. Ambil beberapa cacing tanah, sekitar 10 buah. Bersihkan dengan air, usahakan juga buang isi perutnya. Cara memasaknya ada 2 macam, dengan direbus selama 10 menit kemudian setelah suhu turun menjadi cukup hangat baru dikonsumsi (jangan tunggu dingin karena airnya akan terasa lengket) dan yang kedua adalah dengan dipanggang tanpa minyak, lalu campurkan ke dalam air putih dan minum. Bisa juga langsung dimakan tanpa dicampur minuman, cacing tanah sendiri tidak ada rasanya. Resep ini untuk 3x minum/makan dalam sehari.
Cengkeh
Obat sakit tipes alami berikutnya adalah cengkeh. Sebagai bumbu masakan, cengkeh bisa dengan mudah dicari di pasar-pasar tradisional ataupun di supermarket. Pemanfaatannya untuk mengobati penyakit tipes adalah dengan cara direbus. Untuk penyajian 1 hari, cukup 8 batang cengkeh direbus ke dalam 8 gelas air. Biarkan mendidih dan menguap hingga tersisa setengahnya. Diminum sedikit demi sedikit dalam rentang satu hari. Lakukan hal ini selama beberapa hari hingga kondisi membaik.
Bawang Putih
Selain dimanfaatkan untuk bumbu masakan, bawang putih dikenal memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, termasuk salah satunya sebagai obat penyakit tipes. Kemampuan bawang putih untuk mengatasi bakteri sangat berguna untuk melawan Salmonella Typhi, bakteri penyebab sakit tipes. Bawang putih juga dikenal dapat meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh, sehingga juga dapat mempercepat penyembuhan dari penyakit ini. Untuk mengobati tipes, makan 2 siung bawang putih setelah makan, lakukan sekitar 3x sehari selama beberapa sehari secara teratur.
Daun Kemangi
Daun yang baunya harum dan sering dikonsumsi sebagai lalapan ini mengandung zat antibiotik dan antibakteri secara alamiah. Cara pemanfaatannya adalah dengan merebus 20 lembar daun kemangi dan 1 sdt parutan jahe ke dalam 1 gelas air. Rebus hingga mendidih dan airnya tersisa setengah. Setelah suhu turun tambahkan sedikit madu, jangan ditambahkan saat panas karena akan merusak nutrisi madu. Campuran ini untuk diminum 2 hingga 3 kali sehari, lakukan berulang selama beberapa hari.
Ramuan Sambiloto + Temulawak + Jinten Hitam
Ramuan tanaman toga (obat keluarga) ini merupakan obat sakit tipes yang cukup mudah didapatkan. Ambil 10 lembar daun sambiloto, 15 gram temulawak dan juga jinten hitam. Proses pembuatannya pun tidak sulit dan tidak memakan waktu yang lama. Cuci dulu dedaunan yang sudah Anda siapkan sebelumnya, lalu potong kecil-kecil dan rebus bersama jinten hitam sampai airnya mendidih. Minum sebanyak 2 kali sehari sampai gejalanya mereda dan kondisi mulai membaik.
Jika Anda ingin memanfaatkan kunyit sebagai obat sakit tipes, hendaknya konsultasikan dulu dengan dokter. Penelitian terbaru dari Institut Sains India1 menunjukkan bahwa kunyit ternyata malah dapat mempercepat pertumbuhan bakteri Salmonella hingga 3x lipat lebih cepat dari kondisi normal, sehingga sebaiknya kunyit justru dihindari saat sakit tipes. Dalam penelitian ini juga diketemukan ternyata ada zat di dalam kunyit yang malah dapat menyebabkan bakteri ini menjadi lebih kebal dan sulit diobati. Penemuan ini berbanding terbalik dengan kepercayaan masyarakat selama ini.
Diet
untuk tifus
Makanan tertentu perlu untuk dihindari untuk membantu meringankan gejala atau ketidaknyamanan karena tifus. Hindari makanan yang mengandung serat tinggi, seperti biji-bijian, buah dan sayuran mentah, ketan, umbi, gorengan, karena ini bisa memberatkan sistem pencernaan. Makanan yang harus dihindari juga termasuk sayuran seperti kubis, cabe dan lobak karena bisa menyebabkan kembung dan gas. Hindari semua bumbu-bumbu sebisa mungkin, terutama yang memiliki sifat panas seperti lada, cabai, dan cabe rawit.
Diet
adalah bagian yang tak kalah penting dari pengobatan untuk tifus. Diet atau
mengatur makanan dan pengobatan merupakan suatu keharusan untuk mengatasi
kondisi kesehatan tersebut dan untuk mencegah kambuh. Dampak dari penyakit
tifus adalah pencernaan usus, sehingga sangat penting untuk menjalankan diet
makanan yang mudah untuk dicerna. Makanan ini juga akan membantu sistem
kekebalan tubuh penderita bisa pulih secepat mungkin.
Makanan
lunak yang mudah dicerna menjadi persyaratan pertama selama pengobatan tifus,
semua makanan setidaknya dimasak sampai menjadi lembut. Sedikit nasi yang
lembut bersama yoghurt perlu dimasukkan kedalam menu diet untuk penderita
tifus; beras mengandung sedikit serat untuk membantu mengatur sistem
pencernaan, sementara yoghurt mengandung bakteri baik yang akan mengurangi
tingkat keparahan. Makanan kaya karbohidrat sangat penting.
Diet setelah tifus perlu dijaga dengan hati-hati untuk menghindari kambuh. Diet tifoid juga harus membantu mengganti elektrolit dan mineral yang hilang. Pasien tifoid perlu minum sebanyak 500 ml setiap hari. Anak-anak umumnya cenderung sulit untuk menjaga diet tipus, padahal ini cukup penting untuk diberikan. Tetap berikan cairan untuk anak.
Produk
hewani perlu dibatasi selama dalam penyembuhan. Susu sebaiknya tidak dimasukkan
karena lebih sulit dicerna juga bisa memperburuk diare, serta daging juga sulit
dicerna dan bisa memperburuk diare, gas, dan masalah pencernaan lainnya. Namun,
dalam beberapa kasus, dokter mungkin merekomendasikan daging unggas, karena
merupakan sumber protein yang sangat baik. Ayam bisa dikukus dan diiris halus
bisa ditambahkan kedalam sup untuk meningkatkan asupan protein bagi
pasien. Perlu diingat bahwa sup atau masakan lain tidak boleh ditambah dengan
bumbu yang merangsang saluran usus seperti lada dan cabe. Puding beras tawar,
bubur, dan puding juga makanan tifus baik.
Karena
sering mengeluarkan banyak keringat, penderita bisa kehilangan secara drastis
cairan, vitamin, dan elektrolit seperti natrium dan kalium. Oleh karena itu,
penting untuk memasukkan beberapa jenis buah dan sayuran yang dikukus.
Tanyakan
kepada dokter untuk memperoleh daftar makanan yang bisa di makan dan
memasukkannya kedalam rencana diet tifoid.
Komplikasi
Tifus
Sekitar
10% pengidap tifus (tipes) menderita komplikasi. Komplikasi terjadi ketika
pengidap tifus terlambat atau tidak diobati dengan antibiotik yang tepat.
Komplikasi terjadi rata-rata tiga minggu setelah infeksi. Komplikasi yang
paling umum terjadi adalah sistem pencernaan yang mengalami pendarahan dalam
dan infeksi yang menyebar ke jaringan sekitarnya hingga mengakibatkan usus atau
sistem pencernaan pecah.
Gejala
Pendarahan Dalam
Pengidap
tifus yang mengalami pendarahan dalam biasanya merasakan gejala-gejala seperti
merasa lelah sepanjang waktu, sesak napas, muntah darah, kulit pucat, denyut
jantung tidak teratur, dan tinja berwarna hitam pekat.
Umumnya
pendarahan dalam akibat tifus tidak mengancam nyawa. Meski demikian, transfusi
darah dibutuhkan untuk mengganti hilangnya darah dari tubuh. Operasi juga
mungkin diperlukan untuk memperbaiki kerusakan pada daerah pendarahan.
Luka
pada Dinding Sistem Pencernaan
Perforasi
terjadi ketika dinding sistem pencernaan terluka dan sebuah lubang pun
terbentuk sehingga isi sistem pencernaan dapat tertumpah ke rongga perut. Tidak
seperti kulit, lapisan perut bernama peritoneum tidak memiliki mekanisme
pertahanan untuk melawan infeksi. Maka nyawa pasien akan terancam ketika
bakteri penyebab tifus menyebar hingga ke perut dan menginfeksi peritoneum.
Kondisi ini dikenal sebagai peritonitis.
Peritonitis
adalah penyakit yang gawat karena peritoneum biasanya steril dan bebas dari
kuman. Dalam situasi ini, infeksi dapat menyebar dengan cepat melalui darah ke
berbagai organ lainnya. Infeksi ini dapat mengakibatkan berbagai organ berhenti
berfungsi, bahkan membawa kematian jika tidak segera ditangani.
Komplikasi
ini diderita sekitar lima persen pengidap tifus. Perforasi ditandai dengan
merosotnya tekanan darah secara tiba-tiba, disusul adanya darah dalam tinja.
Gejala lain adalah sakit perut yang kian memburuk.Di
rumah sakit, pengidap peritonitis akan diobati dengan suntikan antibiotik
sebelum dioperasi untuk menutup lubang pada dinding usus.
Pencegahan
Tifus
Vaksinasi
Tifus (tipes) di Indonesia termasuk dalam jadwal imunisasi anak. Vaksinasi
ini sangat dianjurkan untuk diberikan kepada anak berusia dua tahun untuk
selanjutnya diulangi tiap tiga tahun sekali.
Langkah
Pencegahan Selain Vaksin
Asia,
termasuk Indonesia, adalah daerah endemi tifus. Penyakit ini umumnya terjadi di
negara-negara dengan kebersihan dan sanitasi buruk. Selain Asia, negara-negara
di Amerika Selatan dan Tengah, Timur Tengah, sertaAfrika
juga merupakan daerah dengan tingkat kasus tifus yang tinggi.
Diberikannya
vaksin tifoid tidak begitu saja membuat orang yang divaksin 100% kebal terhadap
bakteri ini. Risiko masih tetap ada, meski gejalanya tidak akan separah yang
terjadi pada mereka yang belum divaksin.
Sayangnya
di Asia, penyakit ini tumbuh subur seiring meningginya tingkat resistensi
bakteri terhadap antibiotik untuk mengobati tifus. Ini mengakibatkan beberapa
antibiotik sudah tidak mampu melawan tifus. Diperlukan penyusunan dan
penyebaran daftar obat-obatan yang sudah tidak efektif agar pasien mendapat
pengobatan yang tepat.
Untuk
mencegah penyakit ini, vaksinasi tifus harus dipadukan dengan perbaikan
sanitasi dan penyediaan air bersih, serta kebiasaan hidup sehat. Perhatikan
hal-hal berikut ini untuk menghindari risiko tertular tifus:
Cuci
tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan dan minuman, serta setelah buang
air.
Jika
harus membeli minuman, sebaiknya minum air dalam kemasan.
Minimalisasi
konsumsi makanan yang dijual di pinggir jalan karena mudah terpapar bakteri.
Hindari
es batu dalam minuman Anda. Juga sebaiknya hindari membeli dan mengonsumsi es
krim yang dijual di pinggir jalan.
Hindari
konsumsi buah dan sayuran mentah, kecuali Anda mengupas atau mencucinya sendiri
dengan air bersih.
Batasi
konsumsi makanan boga bahari (seafood), terutama yang belum dimasak.
Sebaiknya
gunakan air matang untuk menggosok gigi atau berkumur.
Bersihkan
toilet, gagang pintu, telepon, serta keran air di rumah Anda secara teratur.
Hindari
bertukar barang pribadi seperti handuk, sprei, dan alat mandi. Cuci benda-benda
tersebut secara berkala dalam air hangat.
Hindari
konsumsi susu yang tidak terpasteurisasi.
Sebelumnya
perlu diingat kembali bahwa penyakit tipes atau tifus ini adalah penyakit
berbahaya, yang mana sering kali orang yang terjangkiti harus sampai dirawat
dirumah sakit. Jangan tunda untuk pergi ke dokter jika pengobatan secara alami
tidak segera menunjukan tanda-tanda kesembuhan. Tips pertama dalam mengobati
tipes adalah banyak-banyaklah minum air putih, karena saat tipes Anda akan
mudah terkena dehidrasi. Demam tinggi dan diare yang terjadi saat tipes akan
membuat banyak cairan tubuh terbuang keluar. Disarankan juga untuk meminum
oralit agar cairan dapat segera diserap tubuh.
Tips
berikutnya, untuk mempercepat penyembuhan konsumsilah makanan yang bergizi
tinggi. Selama tipes makanan dan minuman haruslah dipilih yang higienis, yang
telah dicuci bersih dan dimasak. Selain itu juga dilarang makan yang bertekstur
keras. Sumber karbohidrat yang dianjurkan adalah bubur nasi yang mudah dicerna.
Sumber protein bisa berasal dari ayam ataupun ikan yang dimasak lunak. Untuk
sayuran pilih yang netral untuk pencernaan, seperti wortel. Untuk membantu meningkatkan
kekebalan tubuh konsumsilah apel dan rajinlah minum madu. Buah pisang juga
cocok dikonsumsi oleh penderita tipes.
No comments:
Post a Comment